Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh pelajar dan mahasiswa di Indonesia selama enam bulan terakhir. Penyebaran virus Corona yang menghantam Indonesia sejak Maret lalu hingga sekarang memang menjadi kekhawatiran besar, tidak hanya bagi masyarakat Indonesia tapi juga dunia. Pasalnya penyebaran virus yang begitu cepat ini sudah merenggut nyawa hingga lebih dari ratusan ribu orang, tak terhitung korban yang meninggal, bukan hanya masyarakat biasa, bahkan ilmuwan dan tenaga medis juga menjadi korban terpapar. Gencarnya himbauan pemerintah dan World Health Organization (WHO) mengenai pengurangan aktivitas di luar rumah tentunya bukan omong kosong belaka, mengingat faktor terbesar yang menyebabkan meluasnya penyebaran virus ini adalah banyaknya interaksi fisik di masyarakat.
Jika berkaca pada kasus infeksi virus SARS ataupun MERS yang sebelumnya pernah terjadi, tentu tak seorang pun mengira bahwa ancaman virus Corona ini bisa membolak-balikkan tatanan dunia dengan begitu drastis, bahkan selevel negara besar dan adidaya sekalipun hingga saat ini masih kocar-kacir dibuatnya. Dilansir dari liputan6.com, Selasa (11/8) dinyatakan bahwa Amerika Serikat berada di posisi paling atas sebagai negara dengan jumlah korban terpapar Corona tertinggi di dunia dengan angka kasus melampaui 5 juta orang. Di Indonesia sendiri jumlah kasus positif terus bertambah, dilansir dari merdeka.com pada Sabtu (29/8) terjadi penambahan 3.308 kasus positif di Indonesia, hingga total kasus terpapar yang diketahui berjumlah 169.195 orang. Adanya penambahan kasus setiap hari ini membuat pemerintah provinsi Kaalimantan Timur yang awalnya mencanangkan untuk membuka kembali sekolah tatap muka pada 18 September mendatang harus berpikir ulang.
Membaca berita demi berita penambahan jumlah kasus positif Corona ini tentu semakin menambah keresahan, apalagi jika korbannya adalah keluarga terdekat kita sendiri, rasanya pasti tak terbayangkan. Namun itulah yang dialami Selvy Nurlianawati, sejak sang ibu dinyatakan positif terinfeksi virus Corona, seluruh urusan keluarga mesti ia tangani, mulai dari memasak, membersihkan rumah dan juga menjaga serta memastikan ia dan ketiga adiknya dalam keadaan sehat. Tentu hal ini tidak mudah, mengingat Selvy juga harus menjalani kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan sedang menjalani proses persiapan lomba sebagai seorang Duta Pelajar Sadar Hukum di tingkat Provinsi Kalimantan Timur.
“Saat ini rakyat Indonesia sedang diuji, akibat virus Corona ini, banyak yang terimbas. Tak terhitung jumlah karyawan yang di PHK ataupun pekerja yang kehilangan pekerjaannya, jumlah anak putus sekolah dan angka perceraian juga meningkat. Tapi melihat orang terdekat kita terpapar virus Corona juga bukan hal yang mudah. Kita harus kuat dan siap mental.” Ujar remaja 17 tahun ini.
Koordinator Divisi Humas BEST SMAIT Ash-Shohwah ini juga menyampaikan kalau sampai saat ini dirinya tidak bisa mengakses fasilitas maupun informasi sebebas teman-temannya, lantaran ia pun harus menjalani proses isolasi mandiri. Namun ia memilih untuk memerdekakan dirinya dari berbagai bentuk kekhawatiran, keterbatasan dan kejenuhan yang saat ini sedang ia jalani bersama keluarga.
“Tentu saja tidak mudah, pemerintah menggaungkan slogan merdeka belajar, justru di saat kebebasan kita sedang terjajah oleh virus Corona. Tapi itu justru disitulah tantangannya.” Tandasnya. Gadis berkulit sawo matang itu nampak optimis meskipun masalah sedang mengepung dirinya.
Menurut Selvy, merdeka belajar hanya bisa dilakukan oleh pelajar yang juga merdeka dalam berpikir. Karena tanpa merdeka berpikir, kita tidak akan mampu merdeka dalam belajar dan bertindak. Tanpa merdeka berfikir, belajar tidak akan menjadi kebutuhan dan kegiatan yang menyenangkan. Hantaman virus Corona ini membuat sebagian besar orang dalam kondisi sulit, tak terlepas para pelajar. Maka menurutnya, merdeka belajar menjadi ajakan yang sangat tepat untuk para pelajar mampu melepaskan belenggu keterjajahan dari virus Corona.
“Kebetulan momentumnya masih di bulan kemerdekaan. Jika dulu, para pahlawan harus berjuang merebut kemerdekaan dengan senjata dan bambu runcing. Hari ini kita generasi muda harus berjuang melawan keterjajahan dari musuh yang tak terlihat dengan kekuatan mental, semangat dan perbaikan-perbaikan pola hidup yang kurang sehat dan kurang teratur.” Pungkasnya.
Perrkembangan teknologi yang sudah sangat massif saat ini, harusnya bisa menjadi momentum yang tepat untuk para pelajar meningkatkan kompetensi dan menemukan cara belajar yang sesuai dengan diri mereka sendiri. Menurut Remaja yang 9 Juli lalu sempat menjuarai Duta Pelajar Sadar Hukum di Kabupaten Berau ini, Mewabahnya virus Corona pada akhirnya ‘memaksa’ para pelajar untuk mengubah pola hidup mereka menjadi lebih bermakna, yang tadinya menghabiskan sebagian besar paket data untuk bermain game online, sekarang harusnya sudah bisa dikurangi. Semua pelajar harus mampu berpikir ulang untuk membantu orangtua mereka secara finansial dengan cara menggunakan paket data sesuai kebutuhan, yaitu untuk belajar secara benar.
Selvy juga berharap dari kejadian ini, ia dan para pelajar lainnya benar-benar mampu lebih menghargai guru dan proses belajar yang sudah mereka lalui di sekolah beberapa waktu lalu, sembari memaknai arti kemerdekaan sesungguhnya, yakni merdeka melawan keterbatasan, kejenuhan, kesulitan dan kenegatifan diri sendiri.
“Mari bahu membahu, bersatu padu kita melawan dan memerdekakan diri dari penjajahan virus Corona. Tetap semangat, beri dukungan serta motivasi kepada pasien yang terinfeksi, dan dukung upaya pemerintah mengurangi penularan virus Corona dengan menggunakan masker, cuci tangan memakai sabun, menjaga jarak dan menerapkan pola hidup sehat.” Pungkasnya.
Nuraisyah Rizky Tanaya, XI MIPA
#LJSI2020
#LombaJurnalistikSiswaIndonesia
#KementrianPendidikanDanKebudayaanRI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar