Oleh : Zain Al Mahdi
Berau- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merencanakan gerakan merdeka belajar sejak tahun 2019, yang akan dilaksanakan pada tahun pelajaran 2020/2021. Sebagaimana dilansir dari laman https://gtk.kemdikbud.go.id/ pada tanggal 25/11/2019, Nadiem Anwar Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, hadir dalam acara Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2019. Beliau menyampaikan makna merdeka belajar yaitu, agar unit pendidikan yaitu sekolah, guru-guru dan muridnya punya kebebasan. Kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif. Merdeka belajar juga mengubah suasana kelas menjadi lebih nyaman karena tidak hanya belajar didalam kelas, dapat berdiskusi dengan guru dan tidak hanya mengandalkan sistem rangking, karena semua siswa memiliki bakat dan kecerdasannya masing-masing. Demikian yang penjelasan Mendikbud yang dikutip dari laman https://id.wikipedia.org/wiki/MerdekaBelajar. Namun, siapa sangka mimpi libur panjang yang sering diinginkan pelajar saat ini menjadi kenyataan, bahkan sampai waktu yang belum ditentukan. Akibat pandemik covid 19 yang telah masuk ke Indonesia sejak Maret 2020, Kemendikbud menetapkan konsep Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sejak 15 Juni 2020. Hal ini sebagaimana disosialisasikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui laman akun youtube Kemendikbud.
Sadli (16) seorang anak dari 3 bersaudara yang tinggal bersama ibunya. Ayahnya telah wafat sejak usianya masih 3,5 tahun. Bersama keluarga kecilnya ia memiliki toko kecil dirumah, sebagai salah satu aktivitas sehari-harinya. Selain menjaga toko, ia juga harus merawat ibunya setelah mengalami kecelakaan bulan juli lalu. Sadli tercatat sebagai salah satu siswa di sebuah SMA Islam Swasta di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Selain melalui aplikasi media sosial, Sadli sebagai salah satu pelajar yang baru menjadi siswa SMA belum pernah bertemu dengan guru dan teman-teman mereka. Semuanya serba aneh dan lucu, bahkan pernah melaksanakan upacara melalui aplikasi meeting. Semua menikmati dan berbahagia menyambut hal baru, meski kerinduan dihati menyeruak karena ternyata libur terlalu lama menimbulkan kebosanan. Kerinduan akan teman-teman baru dan konsep belajar baru, harus ditahan Sadli karena pandemi melanda. Lalu, bagaimana sosok Sadli memaknai merdeka belajar di era pandemi?
Pemilik nama lengkap Muhammad Sadli ini lahir pada tanggal 14 Desember 2004. Ia memiliki kehidupan yang berbeda dari pelajar kebanyakan. Remaja yang biasa dipanggil Sadli ini, tinggal di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 34.127,47 km² dan berpenduduk sebesar kurang lebih 179.079 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Ia sendiri tinggal didaerah perkotaan yang cukup akses internet. Jika pelajar lain memiliki kesulitan akses internet, Sadli justru memikirkan biaya akses internet tersebut. Saat pelajar lain merasakan kenyamanan dirumah karena memiliki keluarga yang lengkap dengan penghasilan tetap, Sadli tidak merasakan itu. Saat pelajar lain selalu hadir disetiap kelas dan mengerjakan tugas sesuai waktu, Sadli harus merapel semua tugas disatu waktu, tak jarang ia absen dan tanpa keterangan dibeberapa pelajaran tertentu. Setiap harinya ia mengikuti pelajaran selama setengah hari dan melanjutkan aktivitas sebagai di keluarga. Tak jarang sesekali pembeli datang ketokonya dan ia meninggalkan pembelajaran untuk melayaninya. Dia harus membagi waktunya untuk belajar, berjualan dan membantu orang tua nya.
Melalui wawancara telepon pada hari minggu, 30/8/2020, Sadli menyampaikan kepada penulis “Dengan izin Allah, pasti selalu ada kemudahan untuk hambanya yang ingin menuntut ilmu meskipun selalu ada yang menghalangi hambanya untuk menuntut ilmu”. Inilah sumber kekuatannya yaitu keyakinan, hal yang menghalangi yang dia maksud adalah kesulitan dan ujian kehidupannya. Untuk anak seusianya memiliki keyakinan kuat dan mampu bertahan dalam semangat belajar adalah hal yang tidak mudah. Apalagi saat teman-teman virtual yang masih belum dikenal akrab, keyakinan dan mimpinyalah yang memompa semangat juang Sadli.
Suatu kali Sadli harus mengikuti Pengenalan Lingkungan Sekolah secara online, namun guru-guru bertanya-tanya kemanakah dia? Ternyata setelah beberapa hari Sadli baru menceritakan bahwa ia harus menemani ibunya cek up kerumah sakit, sementara teman-teman sudah berprasangka jika dia tidak hadir tanpa keterangan. Setelah mengetahui hal tersebut, guru dan teman sekelas mulai mengerti kondisi Sadli. Demikian kisah yang dipaparkannya kepada penulis melalui telepon. Sadli menyampaian Pandemi covid 19 mengajarkan kita untuk bertahan dan berjuang untuk terus maju. Merdeka belajar yang dimaknai Sadli adalah bagaimana dia belajar untuk menjaga keluarga, berbakti kepada ibunya dan membantu perekonomian keluarga. Tentunya tidak mudah untuk remaja seusia Sadli, apalagi saat kondisi pandemi, dimana ekonomi juga semakin sulit. Inilah pembelajaran diluar kelas dan menyenangkan bagi Sadli. Ia mampu kreatif, inovatif dan cerdas menghadapi persoalan kehidupan nyata. Meski kehadirannya di pembelajaran online tambal sulam, semangat belajarnya tidak akan surut. Ia harus mengejar ketertinggalan dan mengusahakan untuk hadir. Pelajar yang sangat menyukai senandung salawat ini memiliki keinginan untuk menjadi ahli agama. Ia tak jarang memberikan nasehat agama kepada teman satu kelas melalui grup kelasnya. Inilah sosok Sadli, meski dalam keterbatasan dan ujian berat, ia tidak berhenti untuk berbagi.
Sadli mengajarkan kepada kita tentang keyakinan, ketabahan semangat juang dan optimisme dalam kehidupan. Khususnya bagi pelajar, agar mampu terus produktif dan semangat belajar ditengah pandemi. Bertahan di tengah banyak nya kesulitan, dan jangan merasa bahwa anda lah yang merasa paling kesulitan dalam hidup, masih banyak orang di luar sana yang megalami ujian atau sebuah rintangan yang sama seperti Sadli, bahkan lebih buruk. Tetapi dia tetap berdiri dan kembali untuk berjuang demi sesuatu yang diinginkannya. Budaya untuk terus maju harusnya menjadi kepribadian kita dan menjadikan orang tua sumber keberkahan hidup dengan berbakti kepadanya. Indonesia harus optimis , sebagaimana Sadli mengajarkan kita untuk terus belajar dan berkarya, agar kita semua tetap meraih bahagia meski di saat bencana. Kita percaya bahwa Indonesia akan bisa kembali normal suatu saat nanti. Sadli dan teman-teman akan kembali bertatap muka disekolah dan menikmati indahnya masa SMA, karena pandemi covid 19 telah berakhir. Optimis!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar