NPSN : 69902911

NPSN : 69902911
Alamat : Jl. Al Bina RT 15 Pembangunan 1, Kelurahan Gunung Panjang, Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur

Minggu, 30 Agustus 2020

PENGALAMAN MENGAJAR MEMBUATKU BELAJAR

Sebuah Coretan Kisah Pelajar di Masa Pandemi
Oleh : Maulisa Sabdazety

Berau- 30/8/2020. Namaku Maulisa Sabdazety. Aku lahir pada tahun 2005. Sekarang aku adalah pelajar dibangku Sekolah Menengah Atas. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Ibuku adalah seorang Guru SMP, sedangkan ayahku pekerjaannya tidak tetap. 
Setiap hari, ku lalui belajar ini dengan tetap menyeimbangkannya dengan masa pandemi ini. Disela-sela kegiatan belajarku ku luangkan sedikit waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah walau tidak sesering yang biasanya ku lakukan yang penting lingkungan tempat tinggal dan tempat belajarku bersih dan nyaman dipandang. Saat ini, kebersihan merupakan hal yang utama, untuk mencegah virus dan bakteri berkembang disekitarku. Bagaimana pun, aku juga ingin memakai seragam abu-abu dan bersenda gurau bersama teman-temanku. Selalu terbesit dipikiranku, kapankah aku dapat bertemu langsung dengan teman dan guruku, dan harus sampai kapan aku mengenali mereka  hanya melalui gambar di layar gadgetku. Bisa saja aku izin kepada guruku bahwa aku tidak bisa mengikuti kelas karena sakit, tidak ada juga yang mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Namun, aku memutuskan untuk merdeka dalam memaknai belajar dirumah ini sebagai bagian pilihan dalam belajar. Aku selalu berusaha meyakinkan diri ini bahwa esok akan lebih cerah, esok akan lebih bermakna, dan esok segala mimpi dapat digapai. 
Kondisi pandemi pada saat ini, mengharuskan kita untuk berdiam diri di rumah. Sekolah yang harusnya berjalan dengan semestinya sekarang harus berubah menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Teman-temanku banyak yang berpikir bahwa PJJ itu sangat membosankan. Namun, tidak bagiku. Ku pikir ini adalah moment bahagiaku karena dapat berkumpul dengan keluargaku. Tentu saja tidak hanya itu. Aku juga membantu orang tuaku untuk mengajari adikku yang masih kelas 1 SD ketika waktuku sedikit luang. Menghadapi seorang adik yang terbiasa banyak bermain dan belum mampu membaca perlu kesabaran, belum lagi cerewetnya yang membuatku rentan emosi. Terkadang aku yang menyerah tak mau berbicara, hingga Ibuku berkata, “jangan menganggap kemampuan setiap manusia akan sama, apalagi menyamakan pikirannya dengan pikiranmu yang tentunya sekarang kamu sudah bisa membaca”. Ibuku juga mengingatkanku betapa rumitnya dulu waktu ia membimbingku hingga aku mampu membaca. Kini ku sadari, dengan aku menjadi guru oleh adikku, aku menjadi tahu bahwa menjadi guru tidaklah semudah yang dibayangkan, menjadi guru dibutuhkan tenaga ekstra, dan kesabaran. Maka, aku menjadi sadar untuk selalu semangat dalam belajar dan berusaha sebaik mungkin untuk memahami setiap yang diajarkan oleh guruku.
Aku pernah terpikirkan tentang cerita seorang anak petani yang berhasil menyelesaikan pendidikan S2 di Amerika. Jika ia saja bisa, harusnya aku yang berasal dari anak seorang guru harus bisa menjadi sepertinya. Aku merasa banyak hal yang bisa ku lakukan. Ku pikir tenagaku tidak begitu lemah, karena masih banyak hal yang bisa ku lakukan sendiri. Ku pikir otakku lumayan cerdas, karena masih bisa membimbing adikku dalam belajar, aku mampu menggali materi yang terlewatkan dengan bertanya langsung kepada guruku atau mencari sendiri di internet meski kadang ada penjelasan yang tidak sama dengan guruku. Aku selalu mengingat kata Ibuku,“sesuatu yang sering dilakukan akan bertahan dalam diri dan menjadi kebiasaan, yang terpenting itu dilakukan secara terus-menerus walaupun tidak  bisa banyak, lakukan sedikit yang penting dikerjakan dengan serius”. Ini untuk semua hal dari bersih-bersih, mencuci piring, belajar, apalagi menghafalkan ayat suci Al-Qur’an harus dilakukan setiap hari. 
“Seseorang akan menjadi ahli ketika menemukan keahliannya pada saat hal tersebut dilakukannya setiap hari”. 
Kalau yang dikatakan ibuku sebenarnya adalah hal yang pernah ku lakukan berarti hanya kemauanku lagi untuk melakukannya, ini harusnya jadi hal yang otomatis dalam pikiranku, tak perlu lagi diingatkan, sekarang saatnya  membuktikan diri menjadi seseorang yang mandiri, apalagi segala sumber bisa dengan mudah aku bongkar  meski hanya belajar dirumah sendiri tapi tetap ada sosok yang menjadi pembimbingku ,seperti ada ibuku, ada ustad/ustadzahku, mereka yang selalu bersamaku seakan ikut berlari melawan keadaan yang membuat orang susah ini berkolaborasi  lewat pembelajaran online ini, hingga kulewati hari demi hari  hanya memusatkan pikiran pada pelajaran. Bagiku kegiatan belajar dirumah ini tantangan dengan berbagai liku-likunya, saat kehabisan paket data sementara belinya harus  keluar rumah,  “duh.. matahari terik lagi.”. saat paket data masih ada tetapi malah listrik yang tidak menyala hingga sinyal hp berpamitan menjauh, ” aduh.. kesalnya” tambah eror baterai HP. Saat-saat seperti itu aku harus berani, ku hubungi teman dalam grub dan ku hubungi ibuku untuk mencari jalan keluarnya. Tak lama ibuku datang dan langsung menghampiriku. Alhamdulillah dikendaraan ada charger HP. Kami menelusuri jalan untuk mencari jaringan, melewati jalan yang mendaki tapi ibuku berkata “kita tak mungkin hanya sampai disini”. Akhirnya sampailah dikampung sebelah dan masih mencari tempat yang nyaman dan tentunya penuh sinyal. Dihalaman masjid kampung tetangga, ku kumpulkan niatku untuk semangat dalam belajar. Setelah tugasku selesai, kami perhatikan bangunan modern ini. Cantik, berkelas, nyaman dipandang hingga tertarik untuk beribadah didalamnya. Ini adalah bagian dari langkahku dalam mencari jaringan yang merupakan seujung kuku masalahku, hingga aku merasa ada nuansa lebih dari belajar onlineku.
Akan selalu tersimpan di hatiku saat aku menjadi guru oleh adikku, walaupun yang ku ajari ya hanya adikku tapi bagiku itu merupakan pengalaman. Mulai pada saat ia berani menyebutkan satu persatu huruf yang ku tunjukkan, lalu mengejanya dengan huruf yang lain, hingga ejaan itu menjadi suatu kata yang dibacanya. Menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku saat mendengar satu persatu kata yang diejanya berhasil ia satukan menjadi kalimat. Sulit memang menjadi guru, namun ketika melihat ia berhasil seperti bangga pada diri sendiri karena telah berhasil mendidiknya. Inilah merdeka belajar yang ku rasakan, belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya, cara membagi waktu hingga mengatasi masalah dengan cepat. 
Sungguh tidak ada yang tahu apa yang bisa terjadi dihari esok, tapi apapun itu, baik dan buruknya aku berharap selalu ada hikmah dibaliknya. Ketika keluar rumah pastikan untuk selalu menggunakan masker dan usahakan untuk membawa masker cadangan dan juga handsanitizer untuk mengantisipasi keadaan diluar. Saat kembali ke rumah langsung cuci tangan menggunakan air mengalir kan usahakan langsung mandi atau membersihkan diri agar tidak ada  lagi virus yang menempel di tubuh dan pakaian dipakai. Ingat! Jangan pernah berhenti berharap agar COVID-19 segera berlalu, dan kita akan kembali normal seperti dulu lagi.
#LJSI2020
#LombaJurnalistikSiswaIndonesia
#KementrianPendidikanDanKebudayaanRI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru